Neildeva menyoroti kebijakan yang mendukung energi kotor seperti PLTU batu bara dan proyek tambang laut sebagai penyebab rusaknya ekosistem, termasuk menurunnya hasil tangkapan nelayan.
“Selama orientasi kebijakan masih berpusat pada keuntungan finansial, maka bumi akan terus menjadi korban,” kata Neildeva.
Kondisi ekosistem laut di Maluku yang terus memburuk juga disampaikan Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Pattimura, Dr. Mike J. Rolobessy. Ia menjelaskan, kerusakan terumbu karang tak hanya disebabkan faktor alam, tetapi juga aktivitas merusak oleh manusia.
“Selain faktor alam, aktivitas manusia seperti pengeboman ikan, pembuangan limbah, penggunaan jangkar kapal sembarangan, serta bameti—yakni pengambilan biota laut saat surut—mempercepat degradasi lingkungan laut,” ujar Mike.
Kerusakan tersebut mengganggu habitat ikan dan menyebabkan perubahan pola migrasi, yang pada akhirnya membuat nelayan kesulitan mendapatkan ikan.
Kondisi Laut Maluku Semakin Rentan
Perwakilan Dinas Kehutanan dan Perikanan Provinsi Maluku, Selfrida M. Horhoruw, mengungkapkan, Maluku berada di kawasan Coral Triangle, wilayah laut dengan keanekaragaman terumbu karang tertinggi di dunia.
“Sebanyak 605 dari 798 spesies terumbu karang dunia ada di kawasan ini. Tapi semua itu kini terancam akibat overfishing, pengeboman ikan, eksploitasi terumbu karang, dan penggunaan energi kotor,” kata Selfrida.









