Ia menegaskan, pemanasan laut dan coral bleaching telah merusak habitat ikan, memaksa nelayan melaut lebih jauh dan menanggung biaya lebih besar, sementara penghasilan menurun.
Pemerintah daerah, lanjutnya, telah merespons situasi ini dengan menerbitkan regulasi seperti Pergub Maluku No. 29 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan serta Pergub No. 43 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Konservasi Penyu.
Kelompok Rentan Paling Terdampak
Program Manager Yayasan Rumah Generasi, R. Jemmy Talakua, mengingatkan, krisis iklim membawa dampak paling besar bagi kelompok rentan, baik anak-anak, perempuan, lansia, disabilitas, dan masyarakat adat.
“Mereka lebih sulit beradaptasi. Anak-anak terancam gizi buruk, perempuan mengalami tekanan ganda, lansia dan disabilitas rentan saat bencana, dan masyarakat adat kehilangan lahan serta penghidupan,” jelas Jemmy.
Ia menyerukan pentingnya kebijakan iklim yang inklusif dan mendukung partisipasi perempuan dalam aksi komunitas.
Inklusivitas dan Suara Anak Muda Ambon
Pelatihan Academia Politica juga membuka ruang bagi penyandang disabilitas. Salah satu peserta tuli, Hawa Tuhulele, menyambut baik keterlibatan yang setara dalam agenda penyelamatan lingkungan.
“Kami senang bisa dilibatkan. Ini bukti bahwa perjuangan menyelamatkan lingkungan harus melibatkan semua suara, tanpa kecuali,” ujarnya.









