Kondisi tersebut, menurutnya, menempatkan AS dalam dilema strategis: melanjutkan perang yang sulit dimenangkan, menerima kekalahan dengan syarat Iran, atau menghadapi eskalasi konflik berkepanjangan.
Iran Berpotensi Jadi Kekuatan Dominan
Kagan juga menilai negara-negara di kawasan Teluk Persia pada akhirnya akan menyesuaikan diri dengan kekuatan Iran.
“Amerika Serikat akan membuktikan dirinya sebagai macan kertas, memaksa negara-negara Teluk dan Arab lainnya mengakomodasi Iran,” tulisnya.
Ia bahkan meragukan efektivitas koalisi internasional untuk mengubah keadaan, mengingat keterbatasan kemampuan dibandingkan kekuatan militer AS yang dinilai belum mampu mengatasi situasi tersebut.
Dampak Global bagi Posisi AS
Lebih jauh, Kagan memperingatkan bahwa dampak kekalahan ini akan bersifat global, bukan sekadar regional.
Ia menyebut dominasi Amerika di kawasan Teluk Persia berpotensi runtuh dan diikuti oleh melemahnya kepercayaan sekutu di kawasan lain, termasuk Asia Timur dan Eropa.
“Sekutu Amerika pasti bertanya-tanya tentang daya tahan Amerika jika terjadi konflik di masa depan,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti menipisnya persediaan militer AS akibat konflik yang berlangsung, yang dinilai memperburuk posisi strategis Washington.
Kagan menyimpulkan, Amerika Serikat kini menghadapi konsekuensi besar dari konflik yang dipicunya sendiri—sebuah situasi yang, menurutnya, telah mengubah peta geopolitik global secara signifikan.









