Insiden terbaru di wilayah Hormozgan disebut sebagai salah satu provokasi paling serius dalam 48 jam terakhir.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui juru bicaranya, Tim Hawkins, mengakui adanya serangan udara ke wilayah Iran selatan.
Namun, Washington menyebut langkah tersebut sebagai tindakan pertahanan diri untuk melindungi pasukan dari ancaman kapal cepat Iran dan aktivitas penanaman ranjau laut.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas
Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari ini turut berdampak pada stabilitas kawasan dan ekonomi global, terutama terkait jalur energi.
Selat Hormuz menjadi pusat ketegangan, mengingat perannya sebagai jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.
Iran sebelumnya sempat melakukan blokade terhadap selat tersebut, yang kemudian dibalas Amerika Serikat dengan strategi kontra-blokade terhadap pelabuhan Iran.
Upaya Damai Masih Berjalan
Di tengah eskalasi militer, jalur diplomasi masih terus diupayakan. Perundingan damai yang dimediasi Pakistan masih berlangsung, meski belum mencapai kesepakatan.
Perbedaan kepentingan terkait pengelolaan Selat Hormuz dan program nuklir Iran menjadi hambatan utama dalam negosiasi.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan menyerukan negara-negara Arab untuk menolak keberadaan pangkalan militer AS di kawasan tersebut.









