Elektabilitas Mengikuti Karya-karyanya
Maka semuanya menjadi terang benderang, bagaimana Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, yang sarat prestasi itu jadi sasaran untuk digempur bertubi-tubi. Dibicarakan dengan serba sebaliknya, dan itu secara sistemik. Setidaknya Anies menjadi paling menonjol jadi samsak hidup untuk dihajar.
Dimulai dari kerja lembaga-lembaga survei Rp mencoba mengecil-ngecilkan rilis hasil surveinya, meski demikian Anies masih bertengger pada urutan tiga besar. Lembaga survei Rp memang dibayar untuk mengerek elektabilitas calon Presiden yang jadi andalan oligarki. Karenanya, mengecilkan elektabilitas Anies mesti dilakukan. Tapi subhanallah semakin dikecilkan elektabilitas Anies tidaklah makin mengecil, tapi justru makin menguat. Meski dikerahkan pula para buzzer Rp yang terus membusuk-busukkan Anies tanpa henti.
Sepertinya rakyat sudah makin pintar melihat fenomena mengecil-besarkan elektabilitas seseorang. Calon Presiden yang nirprestasi, elektabilitasnya dibengkakkan. Sedang yang sarat prestasi justru elektabilitasnya dikempiskan/dikecilkan.
Agaknya upaya membodohi rakyat dengan memunculkan pemimpin model pansos tampak kurang efektif. Upaya mengecilkan Anies justru “dipahami” rakyat dengan sebaliknya. Menggempur Anies dengan sepasukan buzzer Rp yang bak anjing kalap, itu pun tidak membuat Anies terjungkal.









