Anies Baswedan dan Kegairahan Rakyat Menghadirkan Pemimpin Sebenarnya

oleh -45 views
Link Banner

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

PENCITRAAAN selalu jadi andalan nomor satu pemimpin nirprestasi, atau setidaknya minim prestasi. Bisa juga disebut pansos (panjat sosial). Berbagai cara dibuat untuk menutup kekurangan yang dipunya. Pansos jadi atraksi yang dikontenkan tiap hari. Menjadi hal biasa jika pagi hari konten sudah disuguhkan. Bermula dengan gowes seorang kepala daerah di jalanan kotanya. Tebar pesona sana-sini, sambil bagi-bagi selembar uang warna merah pada beberapa abang becak yang dijumpainya.

Layaknya Santa Klaus, menghampiri abang becak yang tengah duduk termangu, melamun menunggu penumpang yang tak juga memakai jasanya. Tiba-tiba dikagetkan serombongan pengendara sepeda, ia tergopoh duduk tegak lurus di becaknya sambil meraih selembar “azimat”, buat hidup sehari dua hari. Ia mengenal persis siapa orang yang memberinya. Matur nuwun, jawabnya dengan wajah sumringah.

Peristiwa itu tidak boleh dicukupkan berhenti di kotanya saja. Atau dicukupkan sampai di provinsi yang dipimpinnya. Tapi perlu diteruskan ke pelosok negeri, bahwa ia pemimpin berbaik hati berbagi pada warganya yang kurang beruntung. Maka, video bagi-bagi uang sambil bersepeda ria itu diviralkan. Tentu yang memviralkan bukanlah orang yang kebetulan menemuinya di jalan. Tapi memang sudah disiapkan, bagian dari tim kreator konten. Karenanya, penggarapannya tampak rapi.

Terkadang juga konten berupa meme dibuat dengan sang kepala daerah tetap sebagai aktornya, yang dikesankan merakyat. Tidak ubahnya orang kebanyakan. Ia tengah makan sendirian duduk di ujung trotoar. Sedang di kanan kirinya mobil berderet. Layaknya petugas parkir saja. Ada pula meme dibuat, dimana sang kepala daerah masih yang sama. Dengan memakai pakaian dinas, entah kenapa duduk di warung yang terbilang sederhana. Kaleng krupuk diletakkan bukan berdiri selayaknya, tapi dibalik agar lebih rendah. Pada kaleng kerupuk terbalik itu diletakkan laptop. Pesan dari meme itu ingin dicitrakan, bahwa di mana pun berada ia tetap bekerja. Naif memang.

Baca Juga  Bagi Masker, Ketua Bhayangkari Daerah Maluku Keluar Masuk Lorong dan Pemukiman Warga

Tidak perlulah disebut siapa yang dimaksud jelmaan dari Santa Klaus, atau siapa pribadi yang menjelma jadi manusia sederhana, bahkan absurd itu. Semua pastilah tahu siapa yang dimaksud, yang memang bisa disebut sebagai rajanya pansos. Seseorang yang digadang-gadang jadi pengganti Jokowi di 2024 mendatang. Maka, lembaga survei politik menempatkannya selalu bertengger teratas, sebagaimana rilis surveinya.

Memang tidak cukup hanya modal pansos dilakukan, meski konten diproduksi saban hari. Wajib juga melibatkan lembaga survei untuk mengerek namanya bertengger di atas. Lembaga survei jadi alat bantu menaikkan elektabilitas yang bersangkutan. Maka, hasil rilis lembaga survei satu dengan lainnya dihadirkan menempatkannya di posisi atas. Bahkan terkadang di posisi paling atas.

Berpuluh lembaga survei lahir menjamur, tapi tidak lebih hanya dua sampai tiga saja lembaga survei kredibel yang masih memegang amanah. Artinya, pantang mengutak-atik hasil survei yang didapat, sebagaimana keinginan pemesan. Bersyukur masih ada pula–setidaknya satu lembaga survei–yang bukan cuma kredibel, tapi juga hanya mau bekerjasama dengan kandidat visioner yang tergolong bersih saja, dan tentu pastinya yang punya kans berlaga dalam perhelatan Pilkada atau Pilpres.

Baca Juga  Dua Toko dan Satu Rumah Di Pasar Girian Dilalap Api

Tapi, ya itu tadi, jumlah lembaga survei yang kredibel relatif sedikit dibanding lembaga survei abal-abal–bisa pula disebut lembaga surveiRp–yang sudi bermain kotor. Bisa menyulap hasil survei sesuai pesanan. Maka, kerjasama pemimpin pansos dengan lembaga surveiRp menjadi efektif mencoba “menipu” pemilih dengan sodoran pemimpin yang seolah layak dipilih.

Lahirnya pemimpin model pansos dengan ambisi berlebih tapi nirprestasi, ini biasanya selalu ada kekuatan modal di baliknya. Orang biasa menyebut sebagai kekuatan oligarki. Hadir sebagai penyandang dana memoles keperluan pemimpin yang dijagokan. Biaya tidak kecil dikeluarkan itu akan berbuah manis, jika jagoannya nantinya terpilih.

Bahkan tidak cukup di situ saja, perlu juga diupayakan mengganjal munculnya pemimpin ideal yang sarat prestasi, punya integritas dan bermoral, untuk tidak terpilih. Maka, upaya pembusukan terus-menerus dilakukan. Maka, jasa buzzerRp dipakai. Dalam konteks ini, punya misi menghajar pemimpin yang punya kans memenangi perhelatan Pilpres 2024.

Elektabilitas Mengikuti Karya-karyanya

Maka semuanya menjadi terang benderang, bagaimana Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, yang sarat prestasi itu jadi sasaran untuk digempur bertubi-tubi. Dibicarakan dengan serba sebaliknya, dan itu secara sistemik. Setidaknya Anies menjadi paling menonjol jadi samsak hidup untuk dihajar.

Dimulai dari kerja lembaga-lembaga survei Rp mencoba mengecil-ngecilkan rilis hasil surveinya, meski demikian Anies masih bertengger pada urutan tiga besar. Lembaga survei Rp memang dibayar untuk mengerek elektabilitas calon Presiden yang jadi andalan oligarki. Karenanya, mengecilkan elektabilitas Anies mesti dilakukan. Tapi subhanallah semakin dikecilkan elektabilitas Anies tidaklah makin mengecil, tapi justru makin menguat. Meski dikerahkan pula para buzzer Rp yang terus membusuk-busukkan Anies tanpa henti.

Baca Juga  Serahkan Puluhan Granat, Senjata dan Peluru, Pangdam Pattimura Apresiasi Warga Morotai

Sepertinya rakyat sudah makin pintar melihat fenomena mengecil-besarkan elektabilitas seseorang. Calon Presiden yang nirprestasi, elektabilitasnya dibengkakkan. Sedang yang sarat prestasi justru elektabilitasnya dikempiskan/dikecilkan.

Agaknya upaya membodohi rakyat dengan memunculkan pemimpin model pansos tampak kurang efektif. Upaya mengecilkan Anies justru “dipahami” rakyat dengan sebaliknya. Menggempur Anies dengan sepasukan buzzer Rp yang bak anjing kalap, itu pun tidak membuat Anies terjungkal.

Anies konsen pada kerja-kerjanya, menyelesaikan janji-janji kampanyenya satu per satu. Anies tidak risau dibicarakan dengan tidak sebenarnya. Anies menganggap angin lalu saja, tidak terjebak larut dengan membela diri segala. Anies khusyuk dengan kerja-kerjanya, dan itulah “pembelaan diri” sebenarnya, yang dengannya menjadikan elektabilitasnya kokoh di atas.

Elektabilitas Anies Baswedan didapat karena kerja-kerjanya yang terlihat. Setidaknya itu yang dinilai rakyat luas. Dengan kata lain, elektabilitas seorang Anies muncul mengikuti hasil kerja-kerjanya yang nyata dan bisa dirasakan, setidaknya oleh warga Jakarta. Dan jika warga di luar Jakarta ikut melihatnya dengan takjub, meski belum merasakan langsung, itu membersitkan keinginan, berharap sentuhan tangan Anies pada saatnya.

Maka, menghadirkan Anies di 2024 jadi ikhtiar yang mesti diperjuangkan bersama-sama. Ikhtiar itu tampak setidaknya dengan kehadiran deklarasi Anies Baswedan for President 2024 muncul di mana-mana. Setidaknya itulah fenomena yang muncul yang sulit dibendung: kegairahan menghadirkan pemimpin sebenarnya. (*)

Sumber: kbanews.com

No More Posts Available.

No more pages to load.