Oleh: Risman Rachman, Kolumnis
Apa bedanya seorang bupati yang meninggalkan rakyatnya untuk menunaikan nazar pribadi dengan seorang presiden yang berangkat ke luar negeri memenuhi undangan?
Bisa jadi Aceh Selatan memang relatif aman, bisa dikendalikan, tanpa korban jiwa dan tanpa pengungsi.
Tetapi di hadapan tetangga yang sedang dikepung maut dan kehancuran, aman bukan alasan untuk pergi.
Justru karena relatif aman, Aceh Selatan di bawah kepemimpinan langsung bupati seharusnya bisa mengerahkan dukungan bagi daerah lain yang lebih parah terdampak.
Di negeri yang sedang dicabik bencana, solidaritas bukan hanya soal menjaga wilayah sendiri, melainkan soal hadir untuk sesama.
Begitu pula di tingkat nasional. Katakanlah keadaan makin aman, laporan menteri menyebut distribusi makanan lancar, listrik pulih, tidak ada lagi daerah terisolasi.
Tetapi dalam bencana Sumatera separah ini, kehadiran Presiden tetap penting. Bukan hanya untuk menenangkan rakyat, melainkan untuk memastikan keputusan diambil berdasarkan data dan fakta yang sah, bukan laporan palsu.
Tanpa kehadiran Presiden, risiko manipulasi informasi semakin besar, dan rakyat kehilangan figur yang menegaskan bahwa keselamatan jiwa adalah hukum tertinggi.








