Ketika Tanah Sedang Runtuh, Apa Sulitnya Presiden Menunda Kunjungan Luar Negeri

oleh -25 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Air bah di Sumatera masih membawa bau hutan yang tercabik. Rumah-rumah hanyut seperti ingatan yang dipaksa hilang. Di sela lumpur yang menelan jalan-jalan desa, ada isak yang tak sempat terdengar, ada jenazah yang ditemukan tanpa sempat dikenali. Negeri ini kembali dipaksa berlutut di hadapan bencana yang seharusnya bisa dicegah.

Korban terus bertambah. Setiap jam menghadirkan kabar baru tentang hilang, luka, dan selamat yang rapuh. Posko-posko pengungsian penuh oleh wajah-wajah yang tidak tahu harus berharap pada siapa.
Anak-anak meringkuk kedinginan di bawah tenda seadanya. Perempuan kehilangan ruang aman yang selama ini mereka jaga dengan susah payah. Dan para lansia hanya menatap kosong, seperti tidak tahu bagaimana melanjutkan langkah berikutnya.

Baca Juga  Goes to School di SMAN 1 Ambon, Gubernur Maluku Tekankan Pentingnya Nilai Pela Gandong

Di banyak titik banjir, warga masih bertahan di atap rumah. Bantuan datang, tetapi tidak selalu cukup.
Jalan putus. Jembatan runtuh. Listrik padam. Di tengah semua itu, rasa genting bukan hanya datang dari air yang naik—tetapi dari ketidakpastian di mana negara berdiri. Mereka menunggu kehadiran yang lebih dari sekadar instruksi; mereka menunggu pemimpin yang memilih tinggal sedikit lebih lama di tengah rakyatnya.

Sementara itu, waktu bergerak jauh lebih cepat daripada penanganan di lapangan. Setiap jam yang terlewat tanpa keputusan yang sigap memperlebar jarak antara negara dan mereka yang sedang berpegang pada sisa hidupnya. Dalam bencana sebesar ini, bahkan kesunyian beberapa jam saja bisa terasa seperti penelantaran.

No More Posts Available.

No more pages to load.