Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Trump masih mempertimbangkan seluruh pilihan yang tersedia.
“Presiden mempertahankan semua opsi yang dimilikinya. Iran ingin membuat kesepakatan, tapi mereka selalu terlambat satu hari dan kekurangan satu dolar,” kata pejabat tersebut.
Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan yang sempat mereda kini kembali memasuki fase berbahaya.
Pulau Larak Diserang, Iran Balas Rudal dan Drone
Pemicu terbaru eskalasi terjadi pada Minggu (30/8/2026), ketika militer AS mengumumkan serangan terhadap peluncur roket Iran di Pulau Larak, kawasan strategis yang berada di sekitar Selat Hormuz.
Washington menyebut serangan itu dilakukan untuk mencegah Iran menanam ranjau di jalur pelayaran utama tersebut.
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah sasaran yang disebut berkaitan dengan keberadaan pasukan AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA).
Trump merespons serangan tersebut dengan ancaman terbuka.
“Kami akan memukul mereka dengan keras. Akan ada tanggapan,” ujar Trump, menurut seorang reporter Fox News.
Media pemerintah Iran melaporkan dua orang tewas dan sejumlah lainnya terluka akibat serangan AS di Pulau Larak.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim serangan rudal balistik terhadap dua pangkalan udara AS di Yordania menyebabkan kerusakan berat.









