Tentara Yordania menyatakan telah mencegat delapan rudal, meski tidak menyebutkan dari mana rudal tersebut diluncurkan.
Trump juga mengatakan seluruh rudal yang diarahkan ke pasukan AS berhasil dicegat, kecuali satu rudal yang menurutnya tidak menimbulkan ancaman.
Iran turut mengklaim telah menargetkan personel AS di sebuah pangkalan udara di UEA dan menembak jatuh sebuah drone Amerika di atas Selat Hormuz.
Abu Dhabi membenarkan telah mencegat sebuah drone di atas wilayah perairannya. Namun, pemerintah UEA membantah Pangkalan Udara Al Minhad menjadi sasaran serangan dan menyebut klaim tersebut tidak berdasar.
Di tengah saling klaim tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru menyerukan agar jalur diplomasi tetap dibuka.
“Kami terus mengupayakan jalur kesepakatan dan pemahaman, dan kami percaya bahwa melanjutkan perang bukanlah demi kepentingan kami, atau demi kepentingan kawasan,” kata Pezeshkian dalam pertemuan puncak di Kyrgyzstan.
Ia menegaskan bahwa solusi atas persoalan yang ada tetap berada pada dialog dan kerja sama.
Namun, seruan tersebut berhadapan dengan ancaman militer yang semakin terbuka.
Selat Hormuz Jadi Titik Rebutan
Di balik pertukaran serangan, Selat Hormuz tetap menjadi pusat persoalan.
Jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima minyak dunia melintasi kawasan tersebut.









