Kawasan tersebut dikenal sebagai titik vital jalur perdagangan energi dunia karena menjadi salah satu rute utama distribusi minyak global.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai keberadaan pasukan AS di sekitar wilayah Iran justru berisiko memicu insiden.
“Pasukan AS yang beroperasi di dekat wilayah Iran terus-menerus berisiko karena kesalahan manusia atau kecelakaan biasa,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap setiap bentuk ancaman.
“Iran tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa balasan. Tinggalkan wilayah kami jika Anda ingin aman,” tegasnya.
Bayangi Negosiasi dan Konflik Regional
Eskalasi terbaru ini terjadi di tengah klaim Presiden Donald Trump bahwa pemerintahannya hampir mencapai kesepakatan dengan Iran.
Seorang pejabat AS menyebut serangan tersebut sebagai “tembakan peringatan” dan diyakini tidak akan menggagalkan jalannya negosiasi.
Namun situasi semakin kompleks setelah Iran sebelumnya mengancam akan menangguhkan pembicaraan damai, menyusul serangan udara Israel di Lebanon yang menewaskan ribuan orang.
Dalam perkembangan lain, Trump dilaporkan telah melakukan komunikasi intens dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut.









