Oleh: Made Supriatma, Peneliti, jurnalis lepas dan visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Di dunia ini, ada orang yang jalan hidupnya hanya mengeluh. A master complainer yang kerjanya mengeluh kiri dan kanan.
Dalam hidup nyata, banyak yang begini ini. Moyang kita pernah punya pepatah, ‘tak pandai menari, lantai dituduhnya berjungkit.’
Orang seperti ini jelas tidak cakap bekerja. Barangkali seumur hidupnya ditolong oleh orang lain terus. Dia mungkin juga beruntung karena hidupnya diumpani orang lain. Orang tua yang kaya raya. Mertua yang berkuasa. Atau orang-orang yang mampu dibeli untuk menjilati agar keluhannya tidak terlalu menyakitkan.
Tukang mengeluh tidak harus miskin. Tidak harus menderita juga. Ia bisa jadi sangat kaya dan sangat berkuasa. Namun dunia dia rasakan selalu tidak berpihak padanya. Ia selalu merasa menjadi korban.
Sebenarnya, itu terjadi karena dia tidak cakap mengerjakan apapun di dunia ini. Dia malas untuk berpikir dan merasa dirinya selalu benar. Dia pusat dunia. Kalau gravitasi menariknya turun, dia mengeluh bahwa dirinya adalah korban.
Dia bisa mengeluh panjang pendek seumur hidupnya. Anehnya dia merasa paling berjasa. Karena dia adalah pusat dunia.








