Porostimur.com, Jakarta – Para peneliti otak membuktikan, “like” dan komentar di Facebook, Instagram atau Tiktok menstimulasi pusat kebahagiaan di otak, mirip seperti makan, seks atau narkoba. Konsultan masalah kecanduan Lydia Rmer mengenal banyak remaja yang super aktif di media sosial, yang berdampak membahayakan kesehatan mereka.
Lydia Rmer mengungkap, banyak orang yang punya pikiran, ia harus memposting semua hal, dan harus selalu up-to-date. Selain itu, ia juga merasa harus mendapat informasi tentang semua hal. Namun karena “langganan” banyak kanal media sosial, sebagai dampaknya, mungkin menelantarkan lingkungan sosial nyata, dan yang lebih parah lagi, sudah berada dalam situasi stres permanen.
Salah satu tanda adanya masalah adalah jika orang selalu mengamati layar smartphone. Tidak ada waktu untuk makan bersama keluarga. Sekolah diabaikan. Tidak ada hobi lainnya, dan bahkan smartphone ikut ke atas ranjang saat tidur.
Takut ketinggalan berita
Lydia Rmer mengungkap lebih jauh, fenomena yang bisa diamati belakangan ini adalah, remaja yang harus selalu membawa powerbank kalau keluar rumah, karena ketakutan, smartphone mereka kehabisan energi sehingga tidak bisa selalu aktif di media sosial.
Di balik semua itu ada fenomena yang disebut FOMO, yaitu fear of missing out, alias takut ketinggalan berita.









