Lydia Rmer menekankan, jika orang tua menemukan botol berisi cairan berwarna kuning di kamar anak remaja, tapi itu bukan jus apel, itu sangat mengkhawatirkan.
“Jika anak benar-benar mulai kencing di botol, karena tidak mau kehilangan waktu pergi ke toilet, itu seharusnya membunyikan tanda bahaya.”
Problem lainnya, akibat aktifitas masif di media sosial orang selalu membandingkan diri dengan orang lain. Influencer selalu berdandan dengan bagus, sehingga kelihatan cantik. Namun citranya seringkali dioptimalkan menggunakan filter, sehingga bukan yang sesungguhnya. Tapi jika anak-anak mencoba sendiri, tetap saja hasilnya tidak memuaskan.
Konsultan di bidang masalah ketagihan Lydia Rmer mengungkap, ia dan rekan-rekannya sudah mengamati, semakin banyak anak berusia lebih muda melakukan operasi kecantikan, karena mereka merasa tidak cantik. Demikian pula, mereka kerap merasa tidak puas dengan tampilan atau badan mereka.
Kecenderungan itu memang banyak ditemukan pada remaja putri atau perempuan muda. Tetapi remaja putra dan pemuda juga terpengaruh tren itu.
“Mereka mungkin pergi ke studio fitness dan mengkonsumsi anabolika,” demikian dijelaskan Lydia Rmer.
Bagaimana menghadapi masalah semacam itu?
Mula-mula orang tua yang harus mawas diri dan mengamati perilaku sendiri. Sebab, seringkali orang tua sepanjang hari hanya mengamati layar komputer atau smartphone. Mereka jadi contoh buruk, dan tidak punya norma. Padahal sangat penting, menunjukkan aturan yang jelas kepada anak-anak.









