Bahlil juga menyinggung perjalanan sejarah Golkar sejak berdiri pada 1964 dan mengikuti Pemilu 1971. Ia menyebut belum pernah ada ketua umum Golkar yang menjabat sebagai presiden, sementara Soedharmono menjadi salah satu tokoh yang pernah memimpin Golkar sebelum menjabat wakil presiden.
“Sejak lahir tahun ’64, pemilu tahun ’71, belum pernah ada ketua umumnya yang menjadi presiden. Dan satu-satunya Ketua Umum Partai Golkar yang jadi ketua umum dulu baru jadi wapres adalah Pak Soedharmono,” ujarnya.
Bahlil Sebut Golkar Berorientasi pada Politik Kesejahteraan
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa Golkar memiliki orientasi politik yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat. Salah satu target organisasi, menurutnya, adalah memperkuat perolehan kursi di DPR dalam setiap penyelenggaraan pemilu.
Ia menjelaskan, sejak awal pembentukannya, Golkar memiliki sejarah sebagai golongan penyeimbang dalam dinamika politik nasional. Setelah reformasi dan Pemilu 1999, Golkar bertransformasi menjadi partai politik, tetapi menurut Bahlil, orientasi dasarnya terhadap kesejahteraan tidak berubah.
“Nah jadi jelas ya, Partai Golkar partai yang sejak sebelum kami lahir, didirikan untuk menjadi golongan penyeimbang dari partai politik sebenarnya dulunya. Tapi pemilu ’99 reformasi harus menjadi partai politik, tapi doktrinnya, tujuannya enggak berubah, menjadi politik kesejahteraan,” kata dia.









