Aku duduk. Aku duduk di hadapannya seakan yin dan yang akhirnya disatukan. Dia menanyakan kabarku, kujawab tepat seperti yang terlihat. Pun kutanya kabarnya, katanya luar biasa baik sejak terakhir kali. Kemudian kami berbincang tentang apa-apa yang terlewat. Tentang konser artis idola yang ia datangi, buku-buku yang ia baca, teman-teman baru dalam hidupnya, kehidupan kampus yang mengombang-ambing jati dirinya, hingga kuliahnya yang telah rampung beberapa bulan lalu. Kemudian kutanya apa rencananya dalam waktu dekat. Gadis itu bilang, “Besok aku terbang ke Würzburg.” Aku tersenyum getir.
Untuk kali pertama dalam hidup, hatiku memohon begitu tulus pada Tuhan agar malam ini sedikit lebih panjang. Agar aku dapat melihat wajahnya lebih lama dari selamanya. Meski aku bisa melihat bulat tekadnya sesempurna bingkai kacamatanya.
Aku selalu tahu gadis ini ingin menjadi lebih dari yang semua orang bisa harapkan, aku mengenalnya.
Aku selalu tahu tak ada yang bisa menghentikannya, aku mengenalnya. Dan aku tahu tak barang sedetik pun ia akan bergeming entah bagaimana aku memohon kepada Tuhan agar dia tinggal di sini. Meski begitu, aku memohon kepada Tuhan. Sampai mataku basah, hatiku yang paling dalam tak mau berhenti memohon.









