Cerpen Karya: Sekar Ayu Diyah Lestari
ANGIN menyapu isi kepalaku bersama malam yang tampaknya menikmati sekali pencambukan rasa dalam diri ini. Motorku melaju di seselipan pesta macet ibukota, menikmati klakson dan pertengkaran, lampu-lampu yang berganti warna atau penjual jajakan yang kian ramai mengepul asap kompornya.
Gemerlap malam terus membawaku hanyut dan aku tak berdaya. Ke perempatan jalan besar, bangunan bercat navy. Terhuyung terus dalam diam, aku menikmatinya. Hingga sampai di pintu kayu setelah selasar pendek berhiasan pohon anggur. Sampai.
Kutarik engsel dan bersamaan itu kutemukan matanya. Enam meter di hadapanku, gadis berambut ungu duduk manis di sana. Memutar kembali kaset film kami yang lama usang. Memanggil kembali rasa yang hampir sempurna aku lupa. Jantungku beradu. Jantungku tak mau tenang kendati langkahku begitu pelan dan wajahku masih menahan rindu untuk runtuh. Dia nyata. Dia di sana.
Semakin dekat dan matanya berkaca. Kali ini senyumnya menyimpul tipis dan aku bersumpah cantiknya masih sama. Aku membalas senyumnya. Sudah tiga tahun. Sudah tiga tahun aku bolak-balik tempat ini untuk sekadar mengingat kehangatan rumah. Dan malam ini ia menyambutku di tempat yang sama.









