Porostimur.com, Labuha — Sebuah ironi pembangunan kembali mencuat di Halmahera Selatan. Proyek Sekolah Unggulan yang diharapkan menjadi pusat pembinaan generasi muda, justru menampilkan wajah lain: retakan di berbagai titik struktur, plafon mengelupas, hingga indikasi kerusakan fatal pada bangunan yang baru diresmikan pada 2025.
Publik sontak geram. Bagaimana mungkin proyek bernilai lebih dari Rp 56 miliar berakhir dengan mutu pekerjaan yang disebut warga “seperti bangunan asal jadi”?
Proyek ini dimulai pada 2022 dengan pelaksana pertama, CV Bima Sakti, berdasarkan kontrak senilai Rp 6,3 miliar. Namun masa kerja 150 hari itu gagal mencapai target dan kontrak diputus.
Pemerintah kemudian menunjuk PT MKM sebagai pelaksana lanjutan di tahun 2023 dengan nilai kontrak meningkat menjadi Rp 14,8 miliar. Meski telah mengalami dua kali adendum, proyek tetap tidak selesai.
Tahun berikutnya, tugas pembangunan diserahkan kepada PT Citra Putra Lateran dengan anggaran jumbo, yakni Rp 34,9 miliar, untuk penyelesaian SMP Negeri Unggulan Saruma.
Hasil akhir yang diharapkan megah dan kokoh ternyata justru memunculkan masalah baru begitu bangunan selesai.
Retakan yang Memantik Kecurigaan
Sejumlah retakan di dinding, kerusakan struktur, hingga dugaan ketidaksesuaian material membuat publik bertanya-tanya: apakah proyek ini dikerjakan sesuai standar? Warga menilai kerusakan semacam ini tak wajar terjadi pada bangunan yang masih “seumur jagung”.









