Bantahan terhadap Narasi “Trans Kie Raha sebagai Lompatan Pembangunan Desa”

oleh -752 views

Konsep ini dibahas oleh Brock & Carpenter (2020) — “resource corridor politics”, Bebbington (2009) — relasi ekstraksi dan pembangunan palsu, dan Fraser Institute (2019) — ketimpangan akses akibat ekspansi tambang.

Jika koridor yang dibangun kebetulan berada persis di jantung wilayah pertambangan aktif, maka wajar publik mempertanyakan apakah jalan ini dibangun untuk mobilitas warga, atau untuk mempercepat truk-truk angkutan ore, memperbesar produksi, dan memotong biaya operasional perusahaan tambang.

Tanpa analisis transparan dan AMDAL yang terbuka untuk publik, proyek ini berpotensi menjadi jalan bagi oligarki, bukan jalan untuk rakyat.

2. Risiko Kerusakan Lingkungan: Mengapa Narasi “Pembangunan” Tidak Boleh Mengabaikannya

Pembangunan jalan di kawasan Halmahera Tengah—salah satu hotspot biodiversitas Wallacea—melibatkan konsekuensi ekologis yang tidak kecil.

Teori konservasi (Primack, 2010; Sloan et al., 2019) menegaskan bahwa jalan adalah pendorong utama deforestasi baru, karena:

Baca Juga  Jalur Babak Gugur Piala Dunia 2026 Ditetapkan, Argentina Diuntungkan, Belanda dan Portugal Hadapi Lawan Berat

a. Efek access road terhadap pembukaan hutan

Jalan membuka akses bagi penebangan liar, perluasan konsesi, sedimentasi sungai, dan potensi banjir bandang

b. Fragmentasi habitat

Burung Bidadari endemik Halmahera, kuskus, hingga spesies amfibi langka—semuanya terancam oleh fragmentasi habitat yang menurunkan populasi dan menghambat regenerasi.

c. Rusaknya jasa ekosistem yang menopang desa

Hutan bukan musuh pembangunan desa; ia adalah infrastruktur ekologis yang menyediakan air bersih, tanah subur, penyangga iklim mikro, pangan liar dan obat-obatan, serta budaya dan ritual masyarakat adat

No More Posts Available.

No more pages to load.