Porostimur.com, Ambon – Gagasan tentang pengelolaan politik identitas yang inklusif mengemuka dalam kegiatan bedah buku karya Simon Batmomolin di Aula FISIP Universitas Pattimura, Selasa (5/5/2026). Dalam forum akademik tersebut, Simon menekankan pentingnya menjadikan identitas sebagai kekuatan pemersatu, bukan sumber perpecahan di tengah masyarakat majemuk.
Kegiatan yang membahas buku “Pengelolaan Politik Identitas Tanimbar” itu turut dihadiri Mike J. Rolobessy yang menyoroti peran kampus sebagai ruang strategis dalam memperkuat kapasitas intelektual mahasiswa, khususnya dalam merespons isu-isu sosial dan politik.
“Identitas harus diposisikan sebagai ruang perjumpaan, bukan sebagai alat pembatas. Jika dikelola dengan baik, ia dapat menjadi kekuatan sosial yang menyatukan,” ujar Simon dalam pemaparannya.
Identitas sebagai Ruang Perjumpaan
Simon menjelaskan, politik identitas merupakan realitas yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, terutama di daerah dengan keberagaman tinggi seperti Tanimbar dan Maluku. Namun, menurutnya, tantangan utama terletak pada cara pengelolaannya agar tidak memicu konflik.
Sebagai penulis muda sekaligus Sekretaris Fungsional Ekonomi Kreatif PP GMKI masa bakti 2025–2027, ia dinilai mampu menghadirkan perspektif yang kontekstual dengan dinamika lokal.









