“Kalau uang token adalah uang yang diedarkan di suatu wilayah tertentu, misalkan di perkebunan di waktu masa penjajahan dulu, karena uang token tempo dulu bukan hanya ada pulau Jawa dan Sumatera, di wilayah Malut, pada saat itu ada perusahaan perkebunan pemerintah Hindia Belanda bernama Roterdam – Bajcan Cultuurmaatschappij juga mengeluarkan uang itu antara tahun 1892-1911,” katanya.
Uang logam yang dipamerkan ini berbahasa Belanda dengan angka 1 Gulden di sebelah dan nama perusahaan perkebunan (Roterdam – Bajcan Cultuurmaatschappij) di sebelahnya lagi.
Bahkan, uang token itu banyak ditemukan di wilayah Sumatera serta di Malut. Uang token itu kemudian berkembang di perkebunan-perkebunan waktu itu yang dikuasai oleh Belanda seperti pada perkebunan kopi, lada, kakao, pala yang ada disini waktu itu. Kemudian uang itu hanya digunakan untuk transaksi di perkebunan, tidak di luar perkebunan.
Dandy mengatakan pameran di Museum Kesultanan Ternate selain memberikan edukasi ke masyarakat untuk mengenal dan mencintai rupiah juga memberikan gambaran yang lebih luas dan lebih lengkap bahwa Kesultanan Ternate itu punya sejarah yang begitu panjang.
“Titik nol rempah, itu ada di Malut, kemudian sejak jaman dulu Ternate itu sudah melakukan perdagangan lokal sekitar sini bahkan sampai perdagangan internasional, sampai kemudian Portugis datang, Spanyol juga datang terus Belanda dan Inggris,” katanya.








