Biar Mereka Pakai Karung Pupuk

oleh -80 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Pada 1789, negeri Perancis dilanda kelaparan hebat. Saat itu, para petani tidak punya makanan. Raja yang berkuasa ketika itu, seorang lalim bergelar Raja Louis XVI.

Keluarga kerajaan terkenal hidup dalam kemewahan. Mereka hidup terpisah dari rakyatnya dan lebih suka mengurung diri dalam istana-istana mereka yang mewah dengan makanan berlimpah.

Sementara rakyat kelaparan dan harus saling memakan untuk bisa tetap hidup.

Ada seorang putri raja yang mendapat laporan tentang kelaparan yang terjadi di luar kastil mewahnya. Tanggapannya adalah (terjemahan bebas saya), “Bukankah mereka bisa makan kue?”

Sejak saat itu, kalimat “Qu’ils mangent de la brioche” itu menjadi terkenal. Kalimat ini diatributkan kepada Marie Antoinette, yang kemudian menjadi Ratu Perancis menggantikan bapaknya.

Saya mengambil jalan memutar untuk menanggapi pembelian seragam dinas untuk para anggota DPRD Kota Tangerang. Mereka menghabiskan Rp 675 juta untuk belanja pakaian dinas. Anggaran ini naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Tidak itu saja. Bahan pakaian pun dipilih bukan sembarangan. Bahan-bahan pakaian mereka bermerek Louis Vuitton untuk Pakaian Dinas Harian.

Baca Juga  BUMN Maluku Pusatkan Perayaan HUT RI ke 74 di Pulau Buru

Oh masih belum cukup. Para wakil rakyat ini akan memakai Lanificio Di Calvino untuk pakaian sipil resmi (PSR), Theodoro untuk pakaian sipil harian (PSH), dan Thomas Crown untuk pakaian sipil lengkap (PSL).

Luar biasa bukan? Menjadi lebih luar biasa karena kita sedang berada dalam masa pandemi. Semua orang merasakan hidupnya lebih berat.

Rakyat biasa pun sudah mulai saling memakan di antara mereka sendiri. Lihat saja, orang mulai maling singkong, pisang, labu, atau apa saja yang bisa mengganjal perut mereka.

Para politisi ini (tidak hanya di DPRD Kota Tangerang) memanfaatkan situasi sulit ini untuk menangguk keuntungan. Sementara orang biasa sibuk melihat perut mereka yang minta diisi, mereka sibuk menggarong apa yang bisa digarong.

Dan, tentu saja, ketika berita ini bocor ke publik, Ketua DPRD dan anggota-anggotanya semua pura-pura bego. Ketua DPRD Kota Tangerang, Gatot Wibowo (Fraksi PDIP) mengatakan tidak tahu menahu soal pakaian dinas ini. Dia berkilah itu urusan Sekretariat Dewan. Dan Sekretaris Dewan pun berkilah tidak memantaunya.

Baca Juga  Daniel Dhakidae: Wakil Sebuah Generasi Intelektual

Sodara, hal seperti ini tidak terjadi pada urusan ‘macak’ (bersolek) para anggota DPRD. Semua politisi melakukan itu. Kalau Anda sedang ada di jalan, perhatikanlah para politisi mempertontonkan wajahnya di baliho-baliho. Mereka bersolek juga bukan?

Itu pun butuh beaya tidak sedikit. Kemarin saya membaca bahwa untuk memasang baliho “Kepak Sayap Kebhinekaan” bergambar Puan Maharani perlu beaya Rp 12-15 juta selama dua bulan. Jadi kita tahu bahwa baliho-baliho itu akan menatap Anda selama dua bulan.

Siapa yang membeayai? Kabarnya, baliho-baliho ini dibeayai oleh ‘kader-kader’ di daerah-daerah. Di daerah Solo dan sekitarnya baliho untuk Puan Maharani dipesan oleh Walikota Solo, Gibran Rakabuming.

Seorang pengusaha iklan mengaku bahwa dia mendapat pesanan untuk memasang 201 baliho. Paling minim 2,4 milyar habis untuk beaya pemasangan saja. Pemborosan? Bukan. Ini investasi untuk maju ke pemilihan presiden, hadiah terbesar untuk politisi negeri ini.

Tidak saja Puan Maharani yang melakukan itu. Ketua Golkar, Arilangga Hartanto pun melakukan hal yang sama. Oh ya, sekarang ini apapun ditunggangi politisi dan pejabat.

Baca Juga  Polres Kepsul Mulai Sidik Laporan HMI dan PMII Cabang Sanana

Kemarin saya lewat di satu kecamatan. Ada himbuan vaksinasi dengan gambar wajah Danramil yang memakan 3/4 baliho! Sekelas Danramil, Sodara-sodara!

Kita kembali ke DPRD Louis Vuitton eh DPRD Tangerang tadi. Ujung dari kelaparan demi kelaparan di Perancis adalah sebuah revolusi yang mengubah negeri ini. Dari sana muncul slogan “liberté, égalité, fraternité” atau kebebasan, persamaan, dan persaudaraan yang terkenal itu.

Saya tidak tahu kemana semua ini akan berujung. Para elit dan politisi kita sekarang jauh lebih pintar dari raja-raja Perancis untuk memanipulasi pendapat umum dan mengeruhkan air untuk bisa lari dari tanggungjawab. Mereka berbekal para pemengaruh (influencers) dan pendengung (buzzer) untuk membentuk opini.

Mungkin kita tidak akan kemana-mana. Orang seperti saya akan sibuk mengeluh setiap hari sementara sebagian besar orang sibuk memuja para politisi ini.

Sekalipun demikian, dalam hati, saya sangat ingin para politisi ini memakai karung pupuk untuk pakaian dinas harian mereka. Bukan untuk pencitraan. Tapi sebagai lambang hinanya tingkah laku mereka. (*)

Foto: Anggota-anggota DPRD Kota Tangerang