Itu pun butuh beaya tidak sedikit. Kemarin saya membaca bahwa untuk memasang baliho “Kepak Sayap Kebhinekaan” bergambar Puan Maharani perlu beaya Rp 12-15 juta selama dua bulan. Jadi kita tahu bahwa baliho-baliho itu akan menatap Anda selama dua bulan.
Siapa yang membeayai? Kabarnya, baliho-baliho ini dibeayai oleh ‘kader-kader’ di daerah-daerah. Di daerah Solo dan sekitarnya baliho untuk Puan Maharani dipesan oleh Walikota Solo, Gibran Rakabuming.
Seorang pengusaha iklan mengaku bahwa dia mendapat pesanan untuk memasang 201 baliho. Paling minim 2,4 milyar habis untuk beaya pemasangan saja. Pemborosan? Bukan. Ini investasi untuk maju ke pemilihan presiden, hadiah terbesar untuk politisi negeri ini.
Tidak saja Puan Maharani yang melakukan itu. Ketua Golkar, Arilangga Hartanto pun melakukan hal yang sama. Oh ya, sekarang ini apapun ditunggangi politisi dan pejabat.
Kemarin saya lewat di satu kecamatan. Ada himbuan vaksinasi dengan gambar wajah Danramil yang memakan 3/4 baliho! Sekelas Danramil, Sodara-sodara!
Kita kembali ke DPRD Louis Vuitton eh DPRD Tangerang tadi. Ujung dari kelaparan demi kelaparan di Perancis adalah sebuah revolusi yang mengubah negeri ini. Dari sana muncul slogan “liberté, égalité, fraternité” atau kebebasan, persamaan, dan persaudaraan yang terkenal itu.




