“Bikin Rumah Dulu Baru Calon” Pesan Hegemoni Kelompok Borjuis

Penulis: Muhamat Kamil, SP. Sekretaris PBB Kepulauan Sula

Bikin Rumah Dulu Baru Calon“. Ada apa dengan kalimat ini ? yang selalu lahir dalam momentum pilkada khususnya di kabupaten Kepulauan Sula.

Seingat beta kalimat ini sempat dibunyikan pada kontestasi PILKADA  2015 lalu, makna dibalik kata ini pesannya begitu jelas dipakai dan digunakan pada tujuan tertentu, apakah kalimat ini lahir sebagai representasi dari arogansi dan kesembongan para borjuis atau para pemodal yang ada negeri ini ?


Bila disimak dengan baik perspektif dari kalimat ini hanya melihat pada relasi materi semata, dogma yang kemudian dipakai mendoktri publik untuk melegitimasi kepemimpinan yang borjuis bermodal besar bahwa mencalonkan diri di Sula mesti modal besar, jelas ini keliru dalam konteks kepemimpinan.

Fakta hari ini kepemimpinan bormodal besar tidak berhasil menciptakan kondisi ekonomi daerah yang membaik, itu logis.


Bagi beta sesorang pemimpin yang matang harusnya memberi edukasi politik yang baik pada genarasi berikut sebagai basis argumentasi kedewasaan dalam berpolitik.


Jadi kalimat tersebut harusnya dikaji dulu sebelum menyampaikan di depan umum, walaupun bunyinya terdengar candaan politis untuk menyindir kelompok tertente, namun siapa saja bisa menafsirkannya sebagai bentuk ejekan.


Padahal peralatan lain yang paling penting adalah intelektual karena degan ilmu dan pengetahuan adalah senjata ampuh mengatasi problem di level sosial.

Selain itu, pengetahuan tentang perilaku moral sebagai ukuran baik atau buruknya perilaku seseorang dalam memimpin rakyatnya adalah amanah agar supaya mencapai kemakmuran degan cara-cara yang jujur, benar dan tepat.

Ini yang harus dibangun dan dikomunikasikan sebagai respresentasi kepemimpinan yang baik.


Katong semua sadar bahwa Sula secara historis mulai dari fase leluhur dalam menjaga negeri ini sampai pada fase perjuangan para tokoh dalam memekarkan Sula menjadi daerah yang otonom adalah murni upaya keras sekaligus lahirnya moto kedaerahan DAD HIA TED SUA yang merupakan gerakan kelompok para intelektual.


Jadi bagi beta Kalimat “Bikin Rumah Dulu Baru Calon”, ini tidak mendidik sama sekali dan begitu pragmatis dan bila ini terus dibiasakan maka otomatis akan berdampak pada masyarakat dan generasi penerus dalam persaingan-persaingan tertentu sehingga aspek pengetahuan dan etika akan dikesampingkan dan memilih jalur praktis yang instan.


Lihatlah realitas kita hari ini, gejala rakyat yang makin tidak kritis dan lebih apatis.

Untuk itu, tinggalkan cara berfikir yang orientasi materi semata sebagai bentuk penghormatan pada intelektual kita yang telah sukses melahirkan daerah ini otonom. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: