Lebih lanjut ia menambahkan, tanggungjawab penanggulangan bencana tidak hanya dipikul oleh pemerintah, namun merupakan tanggungjawab dan urusan bersama, pentingnya keterlibatan pentaheliks dalam penanggulangan bencana.
“Dibutuhkan keterlibatan pemerintah baik pusat maupun daerah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat dalam kesiapsiagaan dan mitigasi menghadapi gempabumi dan tsunami. Pemerintah mempersiapkan sarana dan prasarana seperti rambu jalur evakuasi tsunami, memasang sistem peringatan dini, menyiapkan tempat evakuasi; dan simulasi agar warga siap sedia jika gempabumi dan tsunami terjadi,” tutup Lilik.
Sementara itu pada kesempatan yang sama, Murad Ismail yang menjabat sebagai Gubernur Maluku mengatakan, tinggal di Maluku merupakan sebuah anugerah karena alamnya yang indah, namun harus tetap waspada karena Maluku memilki sejarah kebencanaan yang banyak.
“Hidup di Maluku merupakan anugerah bagi kami, namun kami tidak menutup mata akan sejarah kelam kebencanaan yang pernah dialami pendahulu kami, salah satunya ancaman bencana gempa dan tsunami. Tepat tanggal 30 September 1889, masyarakat maluku mengenal kisah “Bahaya Seram”, hilangnya negeri elpaputih yang konon jatuh ke dalam laut akibat goncangan yang luar biasa, ,merenggut nyawa dan memporak-porandakan kehidupan di masa itu,” ujarnya.






