Bom Waktu Jokowi

oleh -315 views
Ahmadie Thaha/Ist

Barangkali tragedi ini menjadi pelajaran yang terlalu mahal, tapi tetap patut direnungkan: kadang yang kita kira anugerah justru bencana. Kadang tanah subur justru menyuburkan dendam. Kadang angka-angka besar —26 ribu hektar!— bukan menjelaskan kekuatan, tapi mengungkap betapa lemahnya benteng moral di hadapannya.

Mungkin pada akhirnya ini bukan lagi soal Jokowi, atau Yahya, atau Miftachul Akhyar. Ini tentang kita semua: manusia yang terlalu sering memilih mutiara palsu ketimbang mutiara sejati. Tentang umat yang lebih mudah digiring ke ladang batu bara daripada ke ladang ilmu. Tentang organisasi besar yang lupa bahwa persatuan bukan warisan, tapi perjuangan yang harus dijaga setiap hari.

Karena ketika tambang menjadi medan pertempuran, lembaga yang dulu dibangun di atas nilai sufistik dan tradisi pesantren berubah menjadi arena tarik tambang raksasa. Dan ketika debu batu bara itu perlahan turun, kita menyadari bahwa yang hancur bukan hanya struktur kepengurusan, melainkan juga kepercayaan umat.

Baca Juga  Wagub Maluku Dorong Lulusan Poltek Negeri Ambon Kuasai Hilirisasi dan Teknologi Kelautan

Barangkali tragedi ini adalah teguran halus dari sejarah: jangan biarkan kekayaan alam mengubah manusia menjadi miskin jiwa. (*)

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 3/12/2025

No More Posts Available.

No more pages to load.