Bom Waktu Jokowi

oleh -23 views
Ahmadie Thaha/Ist

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Ada satu gejala alam di Indonesia yang lebih ajib dari letusan Gunung Semeru dan lebih berisik ketimbang konser dangdut kampung saat malam hajatan. Coba Anda perhatikan: hampir semua muara permasalahan dan tragedi negeri ini pada akhirnya mengalir ke satu bendungan raksasa bernama Joko Widodo.

Jokowi yang, entah dengan kesadaran penuh atau sekadar naluri politik ala pedagang ikan, telah melahirkan kebijakan yang bukan hanya menguji kesabaran bangsa. Bahkan umat. Terakhir, kebijakannya juga membelah warga Nahdliyyin seperti pisau komodo membelah semangka di warung pinggir jalan.

Ceritanya begini: NU —ormas besar yang umatnya tersebar di mana-mana itu — bisa-bisa mendadak tidak lagi menjadi rumah besar umat. Ia bisa berubah menjadi ladang tambang konflik yang berkilau seperti mutiara. Hanya saja, mutiaranya bukan di Meksiko seperti kisah Kino dalam The Pearl, tapi tepat di Kaltim.

Luas tambang itu sepuluh persen dari luas Jakarta. Seluas 26 ribu hektar! Bayangkan saja: kalau kita bangun pesantren rata-rata 10 hektar —dengan masjid megah dan asrama santri dua lantai— maka kita bisa bikin 2.600 pesantren plus bonus area parkir mobil Rais Aam dan lapangan futsal ukuran internasional.

No More Posts Available.

No more pages to load.