BPS, Bank Dunia, dan UMIC: Evolusi Kemiskinan Baru Indonesia

oleh -6 Dilihat
Guru Besar Sosiologi Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ahmad Humam Hamid

Tangga sosial bukan hanya memerlukan anak tangga. Ia juga perlu mempunyai pegangan.

Kemiskinan yang Berevolusi

Rumah Indonesia tidak berada di dalam toples. Ia terhubung dengan dunia melalui dolar, suku bunga internasional, China, harga komoditas, arus modal, perang, rantai pasok dan perubahan iklim. Ketika dunia tenang, hubungan tersebut dapat membantu mengangkat pendapatan. Ketika beberapa guncangan datang bersamaan, pintu yang sama dapat menjadi jalan masuk badai.

Kita pernah melihatnya ketika pandemi datang. Di Aceh, kita bahkan tidak memerlukan buku ekonomi untuk memahami arti sebuah guncangan. Banjir, kekeringan atau gagal panen dapat mengubah neraca keluarga dalam beberapa minggu. Bagi keluarga kaya, guncangan mungkin berarti nilai tabungan berkurang. Bagi keluarga yang hidup dekat garis kemiskinan, ia dapat berarti turun kelas.

Baca Juga  Nelayan Dusun Seri Kesulitan Melaut, Johan Lewerissa Janji Perjuangkan Bantuan Mesin dan Jaring

Persoalannya tidak berhenti pada ekonomi. Ketika angka makro mengatakan negara semakin makmur sementara jutaan orang merasa kehidupan mereka tetap rapuh, jarak antara statistik dan pengalaman sehari-hari dapat berubah menjadi ketidakpercayaan. Orang kemudian bertanya: kalau negeri ini terus maju, mengapa kehidupan saya masih gampang goyah?

Jika berlangsung lama, pertanyaan itu dapat berpindah dari meja makan ke kotak suara. Rasa tidak aman ekonomi mudah berubah menjadi kemarahan kepada elite, ketidakpercayaan terhadap institusi dan bahan bakar populisme. Karena itu, UMIC bukan hanya medali. Ia juga tagihan.

No More Posts Available.

No more pages to load.