Ketika guratan merah di cakrawala telah sempurna ditelan oleh bumi, Claudia mulai menuruni anak tangga Rumah Sakit Hijau. Saat ia baru saja sampai di lobby rumah sakit, matanya langsung disapa dengan pemandangan seorang lelaki terluka parah diatas kasur yang sedang dibawa ke UGD. Ia yang sedikit ngeri dengan darah pun bergidik ngeri kala melihatnya.
“Permisi, Pak. Itu barusan korban kecelakaan?” Tanya Claudia yang penasaran pada satpam penjaga pos pintu masuk.
“Iya, Neng. Itu kecelakaan gara-gara konvoi motor.” Jawab Sang Satpam.
“Ooh, gitu, makasih, ya, Pak.” Ucap Claudia lalu melenggang pergi meninggalkan area rumah sakit menuju ke Lapangan Jingga.
Dalam derapan langkahnya, Claudia bersenandung sembari menikmati kerlip lampu yang menghiasi lapangan dari kejauhan. Melihat banyak kendaraan roda dua yang berjajar di tepian lapangan membuat Claudia juga ingin merasakan malam minggu bersama teman-temannya. Namun, baginya kesendirian adalah hal yang paling menyenangkan. Tidak ada manusia penganggu ketenangan, dan ia bisa menari-nari dengan khayalan yang selalu mengisi ruang imajinasi.
Saat Claudia memutuskan untuk duduk di kursi yang disediakan oleh food court, dan memesan seporsi es durian, pandangannya teralihkan oleh gerombolan geng motor pencinta alam.










