Bukan Malam Terakhir

oleh -122 views

“Iya, memang terlihat, ya, aura muslimya? Haha…” Jawab Gema dengan sedikit tawa untuk meredakan kecanggungan. Entahlah, suasana yang menyelimuti mereka berdua memang terasa sangat canggung, padahal keduanya sama-sama baru bertemu malam ini. Tidak seperti saat mendaki gunung, dimana Gema bisa langsung menikmati kenyamanannya tanpa perlu basa-basi.

Setelah menunggu beberapa saat dan hanyut dalam obrolan, akhirnya pesanan es durian merekapun sampai. Dibawah sinar bulan, dan suara deburan ombak yang kalah dengan riuhnya suasana lapangan, mereka mulai menikmati buah durian yang sangat terasa di setiap sendoknya.
“Iya pasti, kamu, kan, tadi tidak menjulurkan tangan saat berkenalan.” Dengan menggunakan bahasa yang baku, obrolan mereka terasa tidak begitu formal seperti perspektif orang-orang ketika menggunakan bahasa yang baku.
“Oh, hehe.. iya, maaf, saya sudah terbiasa soalnya.”
“Kamu anggota geng motor itu?” Tanya Claudia.
“Iya.”

Baca Juga  Dies Natalis ke-63, Unpatti Tegaskan Komitmen Cetak SDM Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

Dengan terus melemparkan kata, mereka terus berbicara dengan tatapan yang terarah ke depan. Terasa aneh memang, berbicara tanpa melihat lawan main. Tapi itulah mereka, manusia Tuhan yang sama-sama punya pribadi seperti itu. Obrolan mereka ringan saja, hanya sebatas pribadi masing-masing, namun terlihat sangat hangat, tidak seperti saat awal tadi, canggung.

No More Posts Available.

No more pages to load.