Pada titik tertentu, pujian bahkan tidak membutuhkan pembuktian. Ia cukup diulang.
Satu kesaksian menguatkan kesaksian lainnya. Satu kekaguman melahirkan kekaguman berikutnya. Ketika semakin banyak suara mengatakan hal yang sama, sesuatu yang semula hanya berupa penilaian perlahan memperoleh wajah seperti kebenaran.
Begitulah sebuah sosok dapat dibangun oleh kata-kata.
Bukan melalui apa yang benar-benar ia lakukan, melainkan melalui cara orang-orang di sekelilingnya memilih untuk menceritakannya.
Dan ketika sebuah buku telah sampai pada tahap itu, pembaca patut berhenti sejenak. Bukan untuk menolak pujian, melainkan untuk bertanya: apakah kita sedang membaca manusia, atau sedang membaca gambaran tentang manusia yang telah dipoles sedemikian rupa?
Sedang yang lebih ganjil terjadi ketika pujian membutuhkan pembenaran.
Para penulis tidak cukup mengatakan bahwa sosok itu baik. Mereka merasa perlu mencari alasan yang lebih tinggi untuk setiap kebaikannya. Tindakan yang biasa diberi makna luar biasa. Perilaku yang sebenarnya dapat dibaca dengan banyak cara dipilihkan satu tafsir yang paling menguntungkan. Bahkan sesuatu yang semestinya mengundang pertanyaan dapat dipoles hingga tampak sebagai kebijaksanaan yang belum dipahami orang lain.










