“Ini cara lain untuk membaca kembali siapa kita sebagai masyarakat kepulauan,” tambahnya.
Pameran ini dibagi ke dalam beberapa zona kuratorial yang menghadirkan tema-tema spesifik, mulai dari Ambon Tempo Doeloe, arsitektur sejarah, ruang adat, ruang publik, ekologi bahari, kehidupan sosial, hingga kuliner dan nostalgia kolektif.
Setiap karya dilengkapi caption kontekstual agar publik dapat memahami makna budaya dan sejarah di balik visual tersebut.
Edukasi Publik: Bacarita, Workshop, dan Live Sketch
Selain pameran utama, pengunjung juga akan disuguhkan serangkaian kegiatan pendukung yang dirancang sebagai ruang belajar dan berbagi pengetahuan. Hari pertama setelah pembukaan akan diisi diskusi “Bacarita Santai: Ambon dari Masa ke Masa” bersama jurnalis senior Novi Pinontoan.
Hari kedua menghadirkan live sketch bersama Linley Pattinama dari Maluku Sketchwalk, serta workshop restorasi foto dan teknik digital oleh Habib Almascaty dari MalukuPedia.
Seluruh kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat literasi sejarah melalui seni visual dan memperluas partisipasi publik, khususnya generasi muda.
Dengan pendekatan lintas waktu dan lintas medium, “Cahaya dari Masa” berupaya membuka kembali jendela ingatan sekaligus memperkenalkan cara-cara baru untuk melihat Maluku — bukan hanya masa lalunya, tetapi juga bagaimana ruang dan identitasnya terus dibentuk oleh tangan dan mata masyarakat hari ini. (Leonard Manuputty)




