Cerita Pelarian dan Hidup yang Sia-sia

oleh -531 views

Alasan Gie datang tentu karena kekecewaanya atas kejadian masa lalu yang membuat hidupnya jauh lebih sulit dari orang lain. Kepura-puraan yang selalu ditunjukkan demi penerimaan yang semu membuatnya muak dengan kehidupan yang dulu ia jalani. Seperti kecelakaan yang terjadi akibat kecepatan maksimal, Gie dengan brutal menunjukkan jati dirinya yang baru. Walaupun ia masih sama seperti Gie yang dulu.

Perjalanan Gie berhenti di jembatan penyebrangan diantara jalanan yang ramai. Terhimpit gedung tinggi yang eksentrik. Perempuan 22 tahun itu merogoh saku celana, memantik rokok yang kesekian kali.. Kemudian orang akan lebih mengenal Gie sebagai pemberontak daripada dirinya sendiri.

Matanya tertuju ke lampu-lampu. Gie menyukainya. Berisik bunyi klakson dijalanan yang padat adalah melodi yang paling ia sukai dari tempat ini. Disekitarnya ramai orang menyeberang. Bergandengan. Malam minggu, malamnya orang pacaran.

Baca Juga  Iran Ancam Jadikan Teluk Oman “Kuburan” Kapal AS

“Gie!” pekik seseorang dengan bersemangat. Gie menyambutnya dengan lambaian tangan sambil tangan lainnya memiting rokok yang sudah separuh jalan. Thomas datang dengan raut wajah yang gembira, sama seperti hari-hari sebelumnya saat ia bertemu dengan Gie di stasiun.

“Gie, hari ini aku ulang tahun,”
“Selamat..” Gie segera menyadari ucapannya dan menahan agar tidak diteruskan. Thomas tidak menunjukkan tanda-tanda kekecewaan namun Gie sangat mengerti maksudnya. Kemudian mereka ditemani kesunyian. Hingga sampai terdengar bisik-bisik angin yang meniup dedaunan disekitarnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.