Curhat Wijnaldum: Selalu Jadi Kambing Hitam di Liverpool

oleh -69 views
Link Banner

Porostimur.com | Paris: Mantan gelandang Liverpool Georginio Wijnaldum mengatakan dirinya “idak merasa dicintai dan dihargai oleh beberapa orang selama waktunya di Anfield.

Pemain internasional Belanda berusia 30 tahun itu pindah ke Paris St-Germain dengan status bebas transfer musim panas ini setelah kontraknya dengan Liverpool berakhir.

Dia bergabung dengan The Reds seharga 25 juta poundsterling dari Newcastle United pada 2016.

Wijnaldum membuat 237 penampilan untuk Liverpool dan membantu mereka memenangkan gelar Liga Premier dan Liga Champions.

“Ada momen ketika saya tidak merasa dicintai dan dihargai,” kata Wijnaldum dalam wawancaranya dengan media Prancis.

“Bukan rekan satu tim saya, bukan orang-orang di Melwood [tempat latihan Liverpool]. Dari mereka, saya tahu, saya bisa mengatakan mereka semua mencintai saya dan saya mencintai mereka. Bukan dari sisi itu, lebih ke sisi lain.”

Baca Juga  Brimob Maluku Kembali Semprot Disinfektan di Kota Ambon

Pertandingan terakhir Wijnaldum untuk Liverpool datang dalam kemenangan kandang 2-0 melawan Crystal Palace, hasil itu mengamankan kualifikasi Liga Champions untuk tim asuhan Jurgen Klopp.

Dia mendapat tepuk tangan dari penonton, sementara rekan setim dan staf pelatih memberinya guard of honour setelah pertandingan.

“Harus saya sampaikan juga ada media sosial,” tambah Wijnaldum.

“Ketika itu menjadi buruk, saya adalah pemain yang mereka salahkan, bahwa saya ingin pergi.

“Setiap hari dalam latihan dan pertandingan, saya memberikan semua yang saya miliki untuk mengakhirinya dengan baik karena, selama bertahun-tahun, Liverpool sangat berarti bagi saya dan karena cara para penggemar di stadion memperlakukan saya.

“Perasaan saya adalah bahwa penggemar di stadion dan penggemar di media sosial adalah dua jenis yang berbeda.

Baca Juga  Dimeriahkan Iwan Fals Hingga Rhoma Irama, Synchronize Fest 2020 Digelar Malam Ini

“Para penggemar di stadion selalu mendukung saya. Bahkan ketika mereka kembali [ketika penggemar dapat menghadiri pertandingan], sudah mengetahui bahwa saya akan pergi, mereka masih mendukung saya dan, pada akhirnya, mereka memberi saya perpisahan yang hebat.

“Di media sosial, jika kami kalah, saya yang disalahkan.”

(red/bolalob)

No More Posts Available.

No more pages to load.