Nagelsmann kala itu menilai pernyataan tersebut bisa menjadi tekanan bagi sang pemain, bahkan meragukan efektivitasnya jika dimainkan sejak awal.
Namun Undav memilih menjawab di lapangan. Ia kini telah mencetak sembilan gol dari 11 laga bersama timnas Jerman.
“Ya, tentu saja,” kata Nagelsmann saat ditanya kemungkinan menjadikannya starter. “Mengapa saya harus merusak alirannya? Dia masuk dua kali dan mencetak gol dua kali.”
Ditolak Sejak Remaja
Kisah Undav dimulai dari kekecewaan. Pada usia 14 tahun, ia ditolak akademi Werder Bremen karena dianggap terlalu kecil secara fisik.
“Saat mereka mengatakan saya tidak punya masa depan, hati saya hancur,” kenangnya.
Namun ia tidak menyerah. Pada usia 17 tahun, Undav meninggalkan rumah dan bergabung dengan klub kasta bawah Jerman, Havelse.
Hidup Berat di Pabrik
Di fase awal kariernya, sepak bola belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Undav harus bekerja delapan jam sehari di pabrik sambil tetap berlatih.
Ia bangun pukul 04.00 pagi, bekerja mengoperasikan mesin laser, lalu berlatih sebelum pulang malam hari.
“Saya harus melakukan itu untuk bertahan hidup karena tidak bisa hidup dari sepak bola,” ujarnya.
Saat itu, penghasilannya sebagai pemain hanya sekitar 120 poundsterling per pekan.
Bangkit dan Menembus Eropa
Perubahan besar terjadi pada 2020 saat ia bergabung dengan Union Saint-Gilloise. Di sana, ia tampil tajam dan mencetak 25 gol dalam satu musim.











