Oleh: M. Isa Ansori, Kolumnis dan Akademisi
Kasus korupsi yang melibatkan Pertamina dengan dugaan kerugian negara mencapai Rp1.000 triliun selama lima tahun terakhir merupakan skandal besar yang mencoreng kredibilitas BUMN energi terbesar di Indonesia. Skema penyelewengan yang terjadi tidak hanya merugikan negara, tetapi juga berdampak langsung kepada rakyat melalui manipulasi harga dan kualitas bahan bakar minyak (BBM).
Kasus ini tidak mungkin dilakukan oleh satu individu semata. Korupsi sebesar ini melibatkan jaringan sistemik yang mengakar dalam tubuh perusahaan, dengan aliran dana yang mengalir luas seperti lagu Bengawan Solo yang menggambarkan pergerakan dari hulu ke hilir.
Persekongkolan antara pejabat tinggi, oknum di dalam regulator, dan bahkan kemungkinan adanya jaringan internasional dalam pengelolaan minyak mentah serta distribusi BBM patut didalami lebih lanjut.
Seiring dengan skandal ini, muncul pula kasus lain yang menggambarkan modus serupa, yaitu oplosan BBM antara Pertalite dan Pertamax. Manipulasi kualitas BBM yang terjadi di berbagai SPBU tidak hanya merugikan rakyat yang harus membeli bahan bakar dengan kualitas di bawah standar, tetapi juga berisiko merusak mesin kendaraan.










