Porostimur.com, Teheran — Militer Iran mengklaim tengah mempelajari teknologi rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat (AS) yang gagal meledak dalam konflik terbaru di kawasan tersebut. Sejumlah rudal yang ditemukan dalam kondisi relatif utuh disebut menjadi “laboratorium berjalan” bagi para insinyur militer Iran untuk mengurai dan mereplikasi teknologinya.
Laporan ini disampaikan kantor berita Mehr yang menyebut rudal-rudal tersebut merupakan bagian dari serangan selama perang 40 hari, namun gagal berfungsi atau berhasil dinetralisir oleh sistem pertahanan udara Iran.
“Setiap rudal Tomahawk yang mendarat dan tidak meledak adalah buku teks tingkat lanjut bagi para insinyur Iran,” tulis laporan tersebut seperti dikutip Middle East Eye.
Meski begitu, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Belajar dari Medan Perang
Menurut laporan itu, Iran kini memanfaatkan sisa-sisa rudal sebagai bahan studi untuk memperkuat pengembangan sistem persenjataan dalam negeri. Pendekatan ini bukan hal baru bagi Teheran.
Sejak dikenai sanksi internasional pascarevolusi 1979, Iran dikenal mengembangkan teknologi militernya melalui metode reverse engineering—membongkar dan meniru sistem senjata asing.
Pejabat Iran juga mengklaim telah menetralisir sejumlah amunisi milik AS dan Israel bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan pada 7 April lalu.









