Di Simpang Dunia

oleh -15 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Bayangkan satu negeri yang dalam sepekan tampak seperti sedang “berkhianat” kepada semua pihak — atau justru setia kepada semuanya sekaligus. Indonesia meneken kerja sama militer dengan Amerika Serikat, lalu terbang ke Moskow bertemu Vladimir Putin.

Di saat yang sama, membeli sistem rudal BrahMos — produk kolaborasi Rusia–India — sambil berbisik menangguhkan keterlibatannya dalam Board of Peace yang digagas Donald Trump. Ini bukan naskah film mata-mata. Ini Indonesia, edisi 2026.

Sekilas, semua yang dimainkan Presiden Prabowo Subianto akhir-akhir ini tampak seperti kebingungan akut. Seperti sopir angkot yang menarik setir ke kiri dan kanan sekaligus — dan anehnya, tetap melaju.

Tapi tunggu dulu. Dalam ilmu hubungan internasional, ada satu istilah yang menjelaskan semua gerakan ini dengan dingin, tenang, dan nyaris tanpa emosi: hedging.

Baca Juga  Blokade AS Kopong, 34 Kapal Hantu Iran Menyelinap Bawa Minyak Senilai Rp15,6 Triliun

Dalam literatur kontemporer, hedging dipahami sebagai strategi menyeimbangkan risiko tanpa harus sepenuhnya beraliansi. Bukan galau. Bukan plin-plan. Ini seni bertahan hidup di dunia yang tak lagi punya satu pusat gravitasi.

Masalahnya, banyak orang masih membaca dunia dengan kacamata lama: seolah setiap negara harus memilih kubu, seperti memilih klub sepak bola — sekali masuk, harus setia seumur hidup.

No More Posts Available.

No more pages to load.