Ambon, Porostimur.com – Prevalensi ketidakcukupan pangan atau Prevalence of Undernourishment (PoU) di Kota Ambon tercatat sebesar 24,78 persen pada 2025. Angka ini menunjukkan penurunan dibanding tahun sebelumnya, namun masih berada jauh di atas rata-rata nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), PoU Ambon turun 2,84 persen dari 27,62 persen pada 2024. Meski demikian, dalam rentang lima tahun terakhir, angka tersebut justru mengalami kenaikan sebesar 2,59 persen.
Secara nasional, rata-rata PoU Indonesia berada di angka 7,89 persen pada 2025. Hal ini menempatkan Ambon sebagai salah satu daerah dengan tingkat ketidakcukupan pangan yang masih relatif tinggi.
Indikator Kerawanan Pangan dan Gizi
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU merupakan indikator yang menggambarkan kondisi seseorang yang secara rutin mengonsumsi makanan dalam jumlah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi harian agar dapat hidup normal, aktif, dan sehat.
Indikator ini menjadi alat penting dalam mengukur tingkat kerawanan pangan dan gizi di suatu wilayah.
Dengan angka 24,78 persen, dapat diartikan bahwa hampir seperempat penduduk Ambon masih mengalami kekurangan asupan energi, meskipun tetap mengonsumsi makanan.
Terendah di Maluku, Namun Tantangan Masih Besar
Dibandingkan dengan 10 kabupaten/kota lain di Provinsi Maluku, Kota Ambon mencatat PoU terendah atau berada di peringkat pertama dengan kondisi terbaik.










