Diary Diandra

oleh -252 views

Aku berlari menuju kamar, dan mengunci pintu. Beberapa menit setelah itu aku melihat dari jendela, tina sudah pulang meninggalkan rumahku.

Tok… tok.. tok… suara ketukan pintu, “Di.. boleh ibu masuk?” ternyata itu ibuku akupun berjalan setengah berlari membuka pintu. Ibuku masuk lalu duduk di sampingku, “Kok kamu nggak ikut jenguk sinta, kamu marahan ya…?” tanya ibu padaku.

Aku hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan ibu, “Di… sinta itu kan temanmu, masalah dalam berteman itu hal wajar. Tapi jangan sampai kalian saling membenci…” ujar ibu menasehatiku.

Kring, kring, kring…. suara telepon berdering, ibuku meninggalkan kamarku dan mengangkat telepon.

Malam harinya, ibu mengatakan bahwa nenekku sakit. Dan ibu harus menjenguknya, tetapi ibu tidak tega meninggalkan aku di rumah sendirian.

Baca Juga  Polisi Ciduk Dua Terduga Pelaku Penikaman Ketua Partai Golkar Malra Nus Kei

“Bu… memang kapan ibu berangkat?” tanyaku pada ibu. Ibu yang terus terlihat cemas, tidak mendengar pertanyaanku. “Di… kamu di rumah bersama tina ya…” ujar ibu. Aku hanya mengangguk, lalu ibu menelepon ibu tina dan menyuruhnya mengantar tina.

Malam itu juga ibu berangkat menjenguk nenek, ditemani pak rudi supir pribadi kami. Setelah ibu berangkat, tinggal aku dan tina di rumah. Tina berbincang banyak hal mengenai sinta, “Di… sinta bilang dia minta maaf karena telah menuduhmu…” ujar tina padaku. Lagi lagi aku hanya terdiam, dan beranjak berdiri di dekat jendela, “maaf, memang mudah mengucapkan kata maaf. Tapi sulit untuku memaafkan tin… Meski aku ingin.” jawabku pada tina.