Diary Diandra

oleh -7 Dilihat

Tina berjalan mendekatiku, dan memelukku dengan erat. “Berusahalah, berusahalah memaafkanya, kasihan dia. Di hari hari terakhirnya ia hidup dengan rasa bersalah…” ujar tina padaku. “Apa maksudmu dengan hari hari terakhirnya?” tanyaku cemas. Tinapun menjelaskan bahwa sinta akan pindah rumah ke bandung, dan meninggalkan sekolahnya disini.

Mendengar hal itu, aku kaget sekaligus bersyukur. Kaget karena sinta akan pindah, dan bersyukur karena yang aku kira tidak benar.

Keesokan harinya, aku dan tina mengunjungi sinta. Sampai di gerbang rumahnya, aku melihat ada dua orang lelaki jangkung berpakaian hitam mengangkuti barang.

“Tin.. sinta akan pergi hari ini?” tanyaku pada tina, setelah berpikir sejenak tinapun angkat bicara “tidak, sinta bilang ia akan berpindah minggu depan. Tapi… kenapa…”. Aku dan tina pun memikirkan hal yang sama, kami berpikir itu perampok.

Tanpa berpikir panjang aku dan tina melaporkan hal itu pada satpam yang sedang berjaga, “pak… itu ada perampok ya?” tanya tina.

Baca Juga  Pangdam Moloku Kie Raha Instruksikan Pendekatan Persuasif Redam Ketegangan di Igobula


Satpam itu hanya diam, lalu melihat ke arah rumah sinta. “Heh… ngawur kalian, itu saudaranya yang punya rumah tau. Tadi soalnya saya sudah kesana” jawab satpam itu sedikit culas. “o.. maaf ya pak kami salah.” kataku menyela pembicaraan mereka. Aku dan tinapun pergi meninggalkan satpam itu, setelah sedikit jauh kami berhenti dan tertawa bersama karena salah mengira.