Diary Diandra

oleh -7 Dilihat

Aku dan tinapun masuk ke rumah sinta, sinta yang kala itu sedang duduk termenung langsung menghampiri kami. Sinta lalu memelukku dan mengucapkan maaf padaku, “Diandra, maaf ya… Kita masih berteman kan?” tanya sinta cemas. Mendengar hal itu aku kembali diam, dan pura pura tidak memaafkannya. Lalu sinta beranjak pergi menuju kamar, “Memangnya kenapa kami kemari kalau aku belum memaafkanmu…” kataku dengan suara yang lebih keras.
Sintapun berbalik dan berlari ke arahku dan tina, kami semua saling memeluk dan berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Sejak saat itu kami bertiga berjanji, akan lebih menjaga persahabatan yang kami jalin.

Beberapa hari setelah hari itu, sinta berangkat ke bandung. Aku dan tina merasa kesepian saat tidak ada sinta. Tapi kami bahagia karena setiap hari bisa meneleponnya. Karena bagi kami, satu hari tidak bertemu sama seperti satu minggu. Karena persahabatan kami, persahabatan yang kukuh. (*)

Baca Juga  Elsina Duganata Kantongi Dukungan Al-Hidayah, Bursa Ketua Golkar Aru 2026–2030 Menghangat