Di sekitar gedung perundingan — yang disebut – sebut berada di kawasan Red Zone Islamabad, dekat kompleks pemerintah — pengamanan berlapis menjadi pemandangan utama.
Barikade, kendaraan lapis baja, dan aparat berseragam bukan lagi simbol kekuatan, melainkan pengakuan diam-diam bahwa dunia sedang rapuh.
Gedung itu sendiri tampak biasa saja, tidak megah berlebihan. Seolah ingin berkata: keputusan besar sering lahir dari ruang yang tampak sederhana, tapi berisi kegelisahan global.
Namun sesungguhnya, percakapan paling menentukan justru tidak terjadi di ruang utama itu. Ia lahir jauh sebelumnya, di meja-meja kecil, di ruang tertutup, di tangan tim-tim teknis yang tidak pernah tampil di kamera.
Di sinilah peran kantor Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menjadi krusial. Dalam waktu yang mungkin hanya hitungan hari, tim khususnya diyakini telah merajut dokumen-dokumen awal.
Mereka merangkum tuntutan, menyaring kepentingan, dan—yang paling sulit—mencari titik temu dari dua dunia yang hampir tidak pernah bertemu kecuali di medan konflik.
Materi pembicaraan pun bukan sekadar “menghentikan perang”. Itu terlalu sederhana untuk konflik yang terlanjur panjang.
Pihak Amerika datang dengan syarat yang bisa ditebak: pembatasan ketat program nuklir Iran, jaminan keamanan jalur energi terutama di Selat Hormuz, serta komitmen Iran untuk menahan pengaruh militernya di kawasan, termasuk di Lebanon.









