Doa yang Tak Mati di Tepi Laut

oleh -28 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

“Dari akar penderitaan, harapan akan tumbuh, dan dari kedalaman badai, pohon itu akan bangkit kembali.”
— Fadwa Tuqan, The Deluge and the Tree

Fajar menyingsing di tepi laut Gaza. Ombak datang perlahan, menggulung pasir yang masih basah oleh darah semalam. Seorang lelaki tua menata jaring di perahunya, sementara anaknya mengangkat ember kecil berisi harapan yang sederhana: agar hari itu tidak ditembaki kapal perang di cakrawala.

Mereka melaut bukan hanya untuk mencari ikan, tetapi untuk mempertahankan hidup—dan lebih dari itu, untuk tetap percaya. Di laut, mereka merasa masih bebas. Laut tidak bisa dijajah sepenuhnya; ia menolak batas, menolak perintah.

Dan di situlah, di antara desis ombak dan teriakan camar, doa-doa dilantunkan: lirih, tapi tak pernah padam.

Baca Juga  Program Pemberdayaan Dorong Kemandirian Ekonomi, UMKM Desa Kian Tumbuh

Setiap pagi di pesisir Beit Lahia, para nelayan berangkat dengan jaring compang-camping. Kapal mereka kecil, layarnya robek, dan di kejauhan selalu tampak bayangan kapal perang Israel berputar seperti hantu.

Namun mereka tetap berlayar—karena diam di darat sama saja dengan mati. “Kalau tak melaut, kami tak makan,” kata seorang nelayan bernama Ahmad, “tapi kalau melaut, kami bisa mati. Maka kami memilih laut, sebab di sana kami masih bisa berdoa.”

Laut adalah masjid tanpa dinding. Di sanalah mereka menundukkan hati, memohon rezeki, memohon keselamatan. Sujud mereka bukan di atas sajadah, melainkan di atas perahu yang bergoyang di atas gelombang. Dan setiap kali angin datang, mereka percaya: Allah masih mendengar, bahkan di tengah bising perang dan deru senjata.

No More Posts Available.

No more pages to load.