Doni Monardo: Pentingnya Pohon untuk Cegah Bencana

oleh -55 views
Link Banner

Porostimur.com | Bogor: Berbagai pepohonan di Tanah Air, bila dimanfaatkan secara maksimal, dapat mengurangi risiko timbulnya korban jiwa ketika terjadi bencana.

Mitigasi berbasis ekosistem harus menjadi strategi utama dalam menghadapi potensi bencana, mengingat Bank Dunia menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu dari 35 negara dengan tingkat risiko ancaman bencana tertinggi di dunia.

Hal tersebut disampaikan DR HC Doni Monardo pada orasi penganugerahan gelar doktor kehormatan (honoris causa/HC) yang berjudul “Model Tata Kekola Sumber Daya Alam dan Lingkungan” dalam sidang terbuka di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (27/3/2021).

DR HC Doni Monardo. Foto: YouTube IPB TV Dalam orasinya, Doni menyatakan keinginannya mengembangkan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan tersebut berangkat dari pengalamannya ketika mendapat tugas operasi militer di hutan.

“Itu membuat saya mengenali banyak jenis makanan sehingga saya berkomitmen untuk menanam, merawat, dan melestarikan tanaman di mana pun saya berada,” katanya.

Baca Juga  DPRD Berharap Pemprov Terbuka Terkait Penyerapan Anggaran

Adapun sejumlah kegiatan pelestarian alam yang dilakukan Doni adalah penanaman bibit trembesi di Cikeas pada 2008 dan di Rancamaya Bogor, Cianjur, Sukabumi dan di sepanjang jalan Kota Kudus, Jawa Tengah.

Ia juga melakukan pembagian 100.000 bibit sengon kepada masyarakat terdampat erupsi gunung Merapi, dan pendirian Paguyuban Budiasi di Sentul, Bogor.

“Budiasi kependekan dari budi daya trembesi. Sampai saat ini paguyuban ini telah menghasilkan lebih dari 20 juta pohon, terdiri dari 150 jenis pohon termasuk tanaman langka, bahkan Kebun Bibit Budiasi ini sudah dikunjungi Presiden Joko Widodo pada tahun 2014 yang lalu,” urai dia.

Doni menyinggung pentingnya pohon untuk mengurangi kerusakan saat ada bencana alam.

Salah satu pohon yang membuatnya tertarik adalah trembesi. Ia menyebut ketika bertugas di Paspampres sering berkunjung ke berbagai daerah.

Diakui ia mendapati di sekitar bangunan pemerintahan peninggalan Belanda pasti ada tiga jenis pohon yaitu trembesi, asam, dan beringin.

Baca Juga  Wadan Lantamal VIII Pimpin Apel Kesiapan Pengamanan Pelantikan Presiden dan Wapres RI Tahun 2019

“Diperkuat dengan hasil penelitian Dr Endes M Dahlan, dosen Fakultas Kehutanan IPB, yang mengatakan bahwa pohon Trembesi adalah penyerap polutan terbaik. Satu pohon trembesi yang lebar kanopinya telah mencapai 15 m, mampu menyerap polutan atau gas CO2 sebanyak 28,5 ton per tahun,” ungkap Doni.

Dikatakan pohon tersebut termasuk jenis tanaman die hard. Dapat tumbuh di tempat yang tandus dan di tempat yang lembab atau basah, di daerah tropis yang tumbuh hingga ketinggian 600 meter di atas permukaan laut.

Oleh sebab itu sangat cocok untuk penghijauan di kota. Selain trembesi, ia juga membudidayakan pohon endemik langka Indonesia lainnya seperti ulin, eboni, torem, palaka, rao, cendana, dan pule yang sudah sulit ditemukan.

“Pohon Palaka saya jumpai di Maluku. Usia pohonnya diperkirakan 400 tahun, dengan keliling banjir sekitar 30 rentang tangan orang dewasa, dan ketinggiannya mencapai 40 meter. Demikian juga Pule yang saya temukan di Markas Lantamal, Ambon. Diameter batangnya lebih dari 3 meter. Dengan ketinggian sekitar 30 meter. Pohon ini mungkin menjadi salah satu saksi sejarah kejadian gempa dan tsunami yang melanda Ambon pada tahun 1674 sesuai dengan tulisan Rumphius,” ujarnya.

Baca Juga  Sangaji Galela

Berkat pengetahuan tentang tanaman, Doni menuturkan terbantu ketika ditugaskan sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Untuk mitigasi daerah longsor dengan kemiringan lereng diatas 30 derajat, bisa menanam beberapa jenis pohon berakar kuat seperti sukun, aren, alpukat, dan kopi.

“Untuk lahan rawan longsor dengan kemiringan yang lebih curam, bisa ditanam vetiver atau akar wangi. Dalam upaya menghindari kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan, kata dia, bisa menanam pohon Laban, Sagu, dan Aren. Adapun untuk mereduksi dampak tsunami, bisa menanam pohon palaka, beringin, butun, nyamplung, bakau, waru, jabon, ketapang dan cemara udang yang memiliki akar kuat,” tutup Doni.

(red/investor)