“Tradisi akademik memerlukan keberanian untuk membangun konsep-konsep baru yang dapat diperdebatkan, diuji, disempurnakan, dan dikembangkan oleh komunitas ilmiah,” ujarnya.
Ia menegaskan, SIMTOXA bukan dimaksudkan untuk menggantikan sejarah filsafat, melainkan menjadi kelanjutan dari perjalanan intelektual yang telah berlangsung selama lebih dari dua ribu tahun.
Harapan dari Indonesia untuk Dunia
Sebagai akademisi yang berasal dari Halmahera Barat, Maluku Utara, Arthuur berharap kehadiran buku tersebut menjadi bukti bahwa kontribusi terhadap perkembangan teori dunia tidak harus lahir dari pusat-pusat akademik di Eropa maupun Amerika Utara.
Menurutnya, melalui tradisi penelitian yang serius, refleksi filosofis yang mendalam, serta keberanian mengembangkan gagasan baru, akademisi Indonesia memiliki peluang yang sama untuk menghasilkan teori yang dapat menjadi bagian dari percakapan ilmiah internasional.
Ia berharap SIMTOXA dapat menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya menjadi pengguna teori, tetapi juga mampu melahirkan konsep-konsep baru yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan global.
Peluncuran buku ini juga mendapat dukungan penuh dari Universitas Kristen Indonesia sebagai bagian dari komitmen memperkuat budaya akademik, riset, dan publikasi ilmiah.
Pada kesempatan tersebut, Arthuur menyerahkan secara simbolis buku SIMTOXA: Subjek Individu sebagai Kebenaran kepada Rektor UKI, Prof. Angel Damayanti. Penyerahan itu menjadi simbol apresiasi terhadap produktivitas akademik dosen sekaligus penegasan komitmen UKI dalam mendorong lahirnya inovasi ilmiah dan pengembangan teori yang mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, baik di tingkat nasional maupun internasional.




