Dramaturgi di Panggung Sastra

oleh -264 views

Oleh: Budi P Hutasuhut, penyair dan penulis

Sebagai mahasiswa jurnalistik dan sudah mulai menulis, masa muda aku sangat terpesona pada Erving Goffman. Pemikirannya tentang interaksi manusia dan betapa pentingnya manusia memiliki kesadaran peran serta kesadaran ruang, sering membuatku berpikir bahwa sebetulnya kesadaran yang dia maksud itu merupakan kecerdasan.

Bagiku, hanya mereka yang memiliki kecerdasan peran dan kecerdasan ruang yang mampu menguasai struktur dan dengan sendirinya menjadi pemenang dalam interaksi sosial karena dia bisa memposisikan dirinya sebagai satu-satunya objek sekaligus subyek yang dapat menyita konsentrasi orang lain.

Tapi, tentu, Goffman bukan tanpa kelemahan dengan teori dramaturginya, meskipun teori itu selalu dipakai secara luas dalam segala bidang kehidupan sampai hari ini. Kelemahan itu akan terang jika kau meyakini bahwa manusia seharusnya menjadi “obor di kegelapan” bagi manusia lain sebagaimana Immanuel Kant mewariskan pemikirannya tentang etika.

Tapi, manusia pada dasarnya pemain drama, punya banyak karakter, tergantung pada orientasi dan keuntungan yang hendak diraih. Kita melihat seorang politisi hanya seorang aktor, yang kadang jadi ustad kadang jadi penjahat, dan semua peran itu dilakoni dengan kemampuan akting yang mengalahkan kecakapan seorang aktor. Dan, para aktor itu, akhir-akhir ini, telah menjadi semakin strategis dengan mengondisikan lahirnya panggung-panggung sastra sebagai podium untuk menjadi aktor.

No More Posts Available.

No more pages to load.