Ketika gagal menceraikan dan mengadu domba Prabowo-Jokowi, ternyata ada cara lain tidak kalah efektif. Ialah melumpuhkan penjaga-penjaga “kaki elektoral” presiden.
Keempat, transfer of prisoner terpidana mati narkoba. Kasus Mery Jane, terlihat sederhana. Tanpa banyak disadari merupakan cerminan benturan besar hegemoni state dan sindikat narkoba. Transfer of prisoner bisa menjadi modus exit way atau cara meloloskan diri. Bagi kejahatan antar negara.
Kelima, penataan CSR. Ditandai masuknya pemeriksaan KPK di CSR Bank Indonesia. Bukti komitmen kabinet Presiden Prabowo dalam pemberantasan korupsi.
Pada saat bersamaan, dari Kairo Mesir, presiden menegaskan kelenturan sementara waktu bagi koruptor. Selebihnya tidak ada toleransi.
Dua bulan kabinet memberi ilustrasi tiga hal.
Pertama, Presiden Prabowo mampu membangkitkan spirit untuk maju. Gagasan-gagasan optmistik dan agresivitas diplomasi internasionalnya memberi harapan publik. Untuk optimis menyongsong kemajuan. Termasuk diplomasi dalam lingkup D-8 yang sedang berlangsung. Spirit merupakan ruh kemajuan sebuah peradaban.
Kedua, Presiden Prabowo berhasil konsolidasi dan pengarusutamaan visi. Daulat pangan, energi, air, hilirisasi, peningkatan SDM. Semua telah dipahami publik secara meluas.









