“Media daerah menentukan apakah kebijakan pusat benar-benar bekerja di lapangan atau hanya berhenti di dokumen,” tegas Teguh.
Ia menjelaskan, JMSI memposisikan diri sebagai penghubung antara kebijakan nasional dan kondisi riil di daerah. Peran ini dijalankan melalui penguatan narasi media lokal, distribusi konten lintas provinsi, serta penjagaan standar etika dan profesionalisme pers.
“Kami ingin memastikan bahwa cerita dari pesisir, pulau-pulau kecil, dan kawasan perbatasan tidak terpinggirkan. Dari sanalah seharusnya pembangunan Indonesia dimulai,” ujarnya.
Menurut Teguh, tanpa keterlibatan aktif media daerah yang kritis dan konstruktif, ekonomi biru berisiko terus menjadi jargon pembangunan, bukan mesin kesejahteraan.
Maluku Tenggara Jadi Contoh Daerah Bertumbuh
Dalam forum tersebut, Bupati Maluku Tenggara Muhammad Thaher Hanubun memaparkan wilayahnya sebagai salah satu contoh daerah dengan potensi ekonomi biru dan pariwisata yang terus tumbuh secara konsisten.
Ia mengungkapkan, sepanjang 2025 kunjungan wisata ke Kepulauan Kei mengalami tren peningkatan, dengan puncak kunjungan terjadi pada periode Juli hingga Oktober, bertepatan dengan musim liburan nasional dan penguatan promosi digital.
Data Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara mencatat sejumlah destinasi unggulan yang paling banyak dikunjungi wisatawan, antara lain Air Terjun Soindrat (18.275 pengunjung), Bukit Indah Bombay (16.275), Air Terjun Bombay (14.250), Pantai Ngursarnadan (13.851), serta Pantai Ngurtafur (10.910).









