“Kita lihat dari sektor transportasi dan akomodasi pertumbuhan ekonominya menurun. Kalau pada triwulan II 2021 pada sektor transportasi 15,5 persen, pada triwulan III 2021 turun menjadi 11,8 persen, kemudian di sektor akomodasi, hotel, dan restoran dari delapan persen turun menjadi empat persen, kenapa dia turun karena adanya penerapan PPKM,” ujarnya.
Kemudian, di sisi lain lambatnya pertumbuhan ekonomi di triwulan III-2021 itu juga dipengaruhi oleh masih belum optimalnya realisasi APBD. “Jadi sampai dengan akhir triwulan III 2021 realisasi APBD di tingkat Provinsi Maluku baru mencapai 58 persen,” katanya.
Pertumbuhan di sektor administrasi pemerintahan ini juga turun dari 6,7 persen menjadi 0,72 persen, karena kemungkinan pemerintah daerah masih berfokus pada penanganan COVID-19.
“Untuk realisasi belanja modal maupun belanja pegawai di pemda belum optimal, sehingga menjadi salah satu penyebab sehingga pertumbuhan ekonomi di Maluku melambat, karena kalau kita lihat dari sisi sektor lain relatif ada peningkatan, contohnya di di bidang pertanian, yang naik dari 0,51 menjadi 2,23 persen pertumbuhannya sehingga memang PPKM itu cukup berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” ujarnya. (red)





